Oleh : Nabiel Fuad Al-Musawa
DEFINISI
1. Secara bahasa Arab (lughah) at-Tahaluf (kompromi) berasal dari kata al-Hilfu yang artinya perjanjian untuk saling menolong, ia berasal dari kata halafa-yahlifu-hilfan. Dalam bentuk kalimat dikatakan hilfuhu fulan fayakunu halifuhu (Fulan berjanji dg fulan maka ia menjadi sahabatnya)[1].
2. Secara syar’I maknanyapun sama, dalam hadits nabi SAW disebutkan dari Ashim ra : “Aku berkata kepada Anas bin Malik : Apakah telah sampai kepadamu bahwa nabi SAW bersabda : “Tdk ada hilfu dlm Islam.” Maka jawab Anas ra : “Bahkan nabi SAW telah mengambil sumpah suku Quraisy dan Anshar dirumahku.” (HR Bukhari bab Laka al Adab, hal 78 dan bab al-Ikha wa Halaf juz 8/26, cet Dar asy-Syatibi).
PERJANJIAN2 JAHILIYYAH DIMASA SEBELUM KENABIAN YG DIDUKUNG OLEH NABI SAW
1. Perjanjian Muthayyibin, yaitu perjanjian antara kabilah Bani Abdud Dar, Bani Jamah, Bani Salim, Bani Makhzum dan Bani Adi, yaitu untuk tidak saling berebut kekuasaan atas Ka’bah yaitu dengan memasukkan masing2 tangannya ke dalam mangkok berisi minyak wangi dan mengusapkannya ke Ka’bah sehingga dinamakan Muthayyibin (orang2 yg memakai minyak wangi). Tentang ini nabi SAW bersabda : “Aku menyaksikan berlangsungnya al-Muthayyibin, aku tidak ingin membatalkannya walaupun aku hanya diberikan kekuasaan atas binatang ternak.” (HR Ahmad dlm al-Musnad, juz-I hal 190 dan 193).
Dan ketika nabi SAW menaklukkan Makkah (fathul Makkah) dan sedang duduk di Masjidil Haram, Ali ra berkata : Wahai RasuluLLAH, kita telah menguasai kunci Ka’bah dan air zam-zam. Lalu nabi SAW berkata : Dimana Usman bin Thalhah? Ini kuncimu, ambil kunci ini selamanya dan tidak akan merebutnya kecuali orang yang aniaya. (Sirah an-Nabawiyyah, Ibnu Hisyam, juz-II, hal. 412)
2. Perjanjian Fudhul, yaitu perjanjian antara Bani Hasyim, bani Muthalib, bani Asad bin Abdul ‘Uzza, bani Zuhrah bin Kilab dan bani Taim bin Murrah untuk tidak membiarkan kezaliman di kota Makkah baik terhadap penduduk pribumi maupun terhadap pendatang (Sirah an-Nabawiyyah, Ibnu Hisyam, juz-I, hal 133-134). Tentang ini nabi SAW bersabda : “Aku telah menyaksikan perjanjian Fudhul di kediaman AbduLLAH bin Jad’an, perjanjian yang tidak akan aku batalkan walaupun aku hanya diberi kekuasaan atas binatang ternak. Dan sekiranya perjanjian itu dilaksanakan pada masa Islam, maka aku akan menyetujuinya.”[2]
Tampilkan postingan dengan label Sirah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sirah. Tampilkan semua postingan
Jumat, 27 April 2012
Senin, 19 Desember 2011
KHALID BIN WALID Radhiyallahu’anhu
Segala puji hanya bagi Allah, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah, anaku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah yang Maha Esa dan tiada sekutu bagiNya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya.. Amma Ba’du:
Tulisan ini adalah bagian kecil dari biografi seorang tokoh terkemuka umat ini, dia salah seorang pahlawan dan kesatria umat ini, dia salah seorang tokoh shahabat Rasulullah saw yang mulia, dan dari perjalanan hidupnya ini kita akan menggali berbagai pelajaran dan ibroh.
Shahabat Rasulullah saw ini masuk Islam pada tahun kedelapan hijriyah dan telah terjun dalam puluhan peperangan. Para sejarawan mencatat, dia tidak pernah kalah dalam satu peperanganpun baik pada saat jahiliyah atau setelah masuk Islam, dia berkata tentang dirinya: Sungguh dengan tanganku ini telah terpotong
sembilan pedang pada saat peperangan Mu’tah sehingga tidak tertinggal di tanganku kecuali sebuah pedang yang berasal dari Yaman”.[Shahihul Bukhari: 3/146 no: 4265]
sembilan pedang pada saat peperangan Mu’tah sehingga tidak tertinggal di tanganku kecuali sebuah pedang yang berasal dari Yaman”.[Shahihul Bukhari: 3/146 no: 4265]
Hal ini membuktikan tentang keberaniannya yang brilian dan kekuatan besar yang telah dianugrahkan baginya oleh Allah pada jasadnya. Dan beliau adalah komando pasukan kaum muslimin pada perang yang masyhur yaitu perang Yamamah dan Yarmuk, dan beliau telah melintasi perbatasan negeri Iraq menuju ke Syam dalam lima malam bersama para tentara yang mengikutinya. Inilah salah satu keajaiban komandan perang ini. Nabi saw telah menggelarinya dengan sebutan pedang Allah yang terhunus, dan beliau memberitahkan bahwa dia adalah salah satu pedang Allah terhadap orang-orang musyrik dan kaum munafiq. [Musnd Imam Ahmad: 1/8]
Dia adalah seorang kesatria, Khalid bin Walid bin Al-Mugiroh Al-Qurosy Al-Makhzumy Al-Makky, anak saudari ummul mukminin Maimunah binti Al-Harits ra, dia seorang lelaki yang kekar, berpundak lebar, bertubuh kuat, sangat menyerupai Umar bin Al-Khattab ra. Shahabat memilki sikap kepahlawanan besar yang mencerminkan dirinya sebagai seorang pemberani dalam membela agama ini, di antara cerita tentang kepahlwanan beliau adalah apa yang terjadi pada perang Mu’tah, pada tahun ke delapan hijriyah, pada tahun dia memeluk Islam. Jumlah tentara kaum muslimin pada saat itu sekitar tiga ribu personil sementara bangsa
Romawi memilki dua ratus ribu personil, melihat tidak adanya keseimbangan jumlah tentara kaum muslimin di banding musuh mereka, terkuaklah sikap kesatria dan kepahlawanan kaum muslimin pada peperangan ini. Nabi saw telah memerintahkan agar pasukan dipimpin oleh Zaid bin Haritsah, dan jika dia terbunuh maka kepeminpinan berpindah kepada Ja’far bin Abi Thalib, dan jika terbunuh maka kepeminpinan digantikan oleh Abdullah bin Rawahah. Semua peminpin di atas mati syahid pada peperangan ini, lalu bendera diambil alih oleh Tsabit bin Aqrom, dan dia berkata kepada kaum muslimin: Pilihlah seorang lelaki sebagai peminpin kalian, maka mereka memilih Khalid bin Walid, maka pada peristiwa inilah tanpak jelas keberanian dan kejeniusannya. Dia kembali mengatur para pasukan, maka dia merubah strategi dengan menjadikan pasukan sayap kanan berpindah ke sayap kiri dan sebalikanya pasukan sayap kiri berpindah ke sebelah kanan, kemudian sebagian pasukan diposisikan agak mundur, setelah beberapa saat mereka dating sekan pasukan batuan yang baru datang, hal ini guna melemahkan semangat berperang musuh kemudian kesatuan tentara kaum muslimin terlihat menjadi besar atas pasukan kaum Romawi sehingga menyebabkan mereka mundur dan semangat mereka melemah. Dia ra telah memperlihatkan berbagai macam bentuk keberanian dan kepahlawanan yang tidak bisa tandingi oleh semangat para pahlawan. Selain itu, dengan keahliannya dan kecerdasannya dia mulai mengarahkan pasukan kaum muslimin untuk mundur secara teratur dengan cara yang unik, dan cukuplah dengan peukulan yang seperti itu, dan beliau melihat agar pasukan kaum muslimin tidak terserang pada sebuah peperangan yang tidak sebanding. Dan saw menyebut hal itu sebagai kemenangan dan beliau bersabda pada saat menyebut ketiga komandan yang gugur syahid kemudian bendera akan diambil oleh salah satu pedang Allah sehingga Allah memberikan kemenangan bagi kaum muslimin atas musuhnya.[Shahih Bukhari: 3/33 no: 3757]
Khalid juga ikut serta dalam peperangan melawan kaum yang murtad, beliau juga ikut berperang menju Iraq, dan para ulama berbeda pendapat tentang sebab dipecatnya Khalid sebagai komando perang di Syam, dan
semoga yang benar adalah apa yang dikatkaan oleh Umar bin Khattab ra: "Tidak, aku akan memecat Khalid sehingga masyarakat mengetahui bahwa sesungguhnya Allah membela agamanya tidak dengan Khalid. [Siar A’lamun Nubala’: 1/378]
Di antara ungkapannya yang agung adalah tidaklah sebuah malam di manaaku bersama seorang pengantin yang aku cintai lebih aku sukai dari sebuah malam yang dingin lagi bersalju dalam sebuah pasukan kaum muhajirin guna menyerang musuh.[Siar A’lamun Nubala’: 1/375]
Dia pernah menulis sebuah surat kepada kaesar Persia yang mengatakan: Sungguh aku telah telah datang kepada kalian dengan pasukan yang lebih mencintai kematian sebagaimana orang-orang Persia menyenangi minum khamar.
Qais bin Hazim berkata: Aku telah mendengar Khalid berkata: Berjihad telah menghalangiku mempelajari Al-Qur’anul Karim.[Disebutkan oleh Al-Hafiz di dalam kitab Al-Mathalibul Aliyah: 4041]
Abu Zannad berkata: Pada Sa’ad Khlaid akan meninggal dunia dia menangis dan berkata: Aku telah mengikuti perang ini dan perang ini bersama pasukan, dan tidak ada satu jengaklpun dari bagian tubuhku kecuali padanya terdapat bekas pukulan pedang atau lemparan panah atau tikaman tombak dan sekarang aku mati di atas ranjangku terjelembab sebgaiamana matinya seekor unta. Janganlah mata ini terpejam seperti
mata para pengecut.[Siar A’lamun Nubala’: 1/382]
Sungguh Khalaid mengharapkan mati syahid dan semoga Allah menyampaikannya pada derjat yang dicita-citakannya.
Dari Sahl bin Abi Umamah bin Hanif dari bapaknya dari kakeknya dari Nabi saw bersabda: Barangsiapa yang meminta kepada Allah mati syahid dengan sebenarnya maka Allah akan menyampaikannya kepada derajat orangorang yang mati syahid sekalipun dirinya mati di atas ranjangnya.[Shahih Muslim: 3/1517 no: 1909]
Lalu pada saat wafat, dia tidak meninggalkan kecuali kuda, senjata dan budaknya yang dijadikannya sebagai shadaqah dijalan Allah, pada saat berita kematian tersebut sampai kepada Amirul Mu’minin, Umar bin Al-
Kattab dia berkata: Semoga Allah meberikan rahmatnya kepada Abu Sualiaman, sesungguhnya dia seperti apa yang kami perkirakan”.[Siar A’lamun Nubala’: 1/383]
Dan disebutkan di dalam hadits riwayat Umar bin AL-Khattab tentang zakat bahwa Nabi saw bersabda: Adapun Khalid maka dia telah menyimpan baju besinya dan perlengkapan berperangnya di jalan Allah”.[Shahih Bukhari: 1/447 disebutkan secara mu’allaq di dalam bab zakat.]
Dia wafat pada tahun 21 H di Himsh pada usia 52 tahun, semoga Allah memberikan kepada Khalid balasan yang lebih baik dan semoga Allah mempertemukan kita dengannya surga yang mulia, dan segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad dan kepada keluarga, shahabat serta seluruh pengikut beliau.
Napoleon Bonaparte adalah Seorang Muslim
Siapa yang tidak mengenal Napoleon Bonaparte, seorang Jendral dan Kaisar Prancis yang tenar kelahiran Ajaccio, Corsica 1769. Namanya terdapat dalam urutan ke-34 dari Seratus tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah yang ditulis oleh Michael H. Hart.
Karier militer Napoleon menyuguhkan paradoks yang menarik. Kegeniusan gerakan taktiknya amat memukau, dan bila diukur dari segi itu semata, bisa jadi dia bisa dianggap seorang jendral terbesar sepanjang jaman. Sebagai seorang yang berkuasa dan berdaulat penuh terhadap negara Prancis sejak Agustus 1793, seharusnya ia merasa puas dengan segala apa yang telah diperolehnya itu. Tapi rupanya kemegahan dunia belum bisa memuaskan batinnya, agama yang dianutnya waktu itu ternyata tidak bisa membuat Napoleon Bonaparte merasa tenang dan damai.
Akhirnya pada tanggal 02 Juli 1798, 23 tahun sebelum kematiannya ditahun 1821, Napoleon Bonaparte menyatakan ke-Islamannya di hadapan dunia Internasional. Namanya berubah menjadi ‘Aly (Ali) Napoleon Bonaparte’.
Apa yang membuat Napoleon ini lebih memilih Islam daripada agama lamanya, Kristen ?
Berikut penuturannya sendiri yang pernah dimuat di majalah Genuine Islam, edisi Oktober 1936 terbitan Singapura.
"I read the Bible; Moses was an able man, the Jews are villains, cowardly and cruel. Is there anything more horrible than the story of Lot and his daughters?"
"The science which proves to us that the earth is not the centre of the celestial movements has struck a great blow at religion. Joshua stops the sun! One shall see the stars falling into the sea... I say that of all the suns and planets,..."
"Saya membaca Bible; Musa adalah orang yang cakap, sedang orang Yahudi adalah bangsat, pengecut dan jahat. Adakah sesuatu yang lebih dahsyat daripada kisah Luth beserta kedua puterinya?" (Lihat Kejadian 19:30-38)
"Sains telah menunjukkan bukti kepada kita, bahwa bumi bukanlah pusat tata surya, dan ini merupakan pukulan hebat terhadap agama Kristen. Yosua menghentikan matahari (Yosua 10: 12-13). Orang akan melihat bintang-bintang berjatuhan kedalam laut.... saya katakan, semua matahari dan planet-planet ...."
Selanjutnya Napoleon Bonaparte berkata :
"Religions are always based on miracles, on such things than nobody listens to like Trinity. Yesus called himself the son of God and he was a descendant of David. I prefer the religion of Muhammad. It has less ridiculous things than ours; the turks also call us idolaters."
"Agama-agama itu selalu didasarkan pada hal-hal yang ajaib, seperti halnya Trinitas yang sulit dipahami. Yesus memanggil dirinya sebagai anak Tuhan, padahal ia keturunan Daud. Saya lebih meyakini agama yang dibawa oleh Muhammad. Islam terhindar jauh dari kelucuan-kelucuan ritual seperti yang terdapat di dalam agama kita (Kristen); Bangsa Turki juga menyebut kita sebagai orang-orang penyembah berhala dan dewa."
Selanjutnya :
"Surely, I have told you on different occations and I have intimated to you by various
discourses that I am a Unitarian Musselman and I glorify the prophet Muhammad and that I love the Musselmans."
"Dengan penuh kepastian saya telah mengatakan kepada anda semua pada kesempatan yang berbeda, dan saya harus memperjelas lagi kepada anda di setiap ceramah, bahwa saya adalah seorang Muslim, dan saya memuliakan nabi Muhammad serta mencintai orang-orang Islam."
Akhirnya ia berkata :
"In the name of God the Merciful, the Compassionate. There is no god but God, He has no son and He reigns without a partner."
"Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Tiada Tuhan selain Allah. Ia tidak beranak dan Ia mengatur segala makhlukNya tanpa pendamping."
Napoleon Bonaparte mengagumi Al-Quran setelah membandingkan dengan kitab sucinya terdahulu, Alkitab. Akhirnya ia menemukan keunggulan-keunggulan Al-Quran, juga semua cerita yang melatar belakanginya.
Dalam buku yang berjudul ‘Bonaparte et I'Islarn oleh Cherlifs, Paris, halaman 105’, Napoleon Bonaparte berkata sebagai berikut: "I hope the time is not far off when I shall be able to unite all the wise and educated men of all the countries and establish a uniform regime based on the prinsiples of the Qur'an wich alone can lead men to happiness.”
“Saya meramalkan bahwa tidak lama lagi akan dapat dipersatukan semua manusia yang berakal dan berpendidikan tinggi untuk memajukan satu kesatuan kekuasaan yang berdasarkan prinsip--prinsip ajaran Islam, karena hanyalah Qur'an itu satu-satunya kebenaran yang mampu memimpin manusia kepada kebahagiaan.”
Beberapa sumber lain yang menyatakan ke-Islaman beliau:
- Buku ‘Satanic Voices - Ancient and Modern’ dengan penulis David M. Pidcock (1992 ISBN: 1-81012-03-1), pada hal. 61
- Surat kabar Perancis ‘Le Moniteur’, yang menulis bahwa beliau masuk Islam pada tahun 1798.
- Buku ‘Napoleon And Islam’ dengan penulis C. Cherfils (ISBN: 967-61-0898-7).
Meskipun pada akhirnya Napoleon dimakamkan secara Kristen di Perancis pada tgl 15 Desember 1840 di gereja Paris, namun sepertinya hal tersebut sebagai sesuatu untuk mengaburkan fakta bahwa beliau adalah seorang Muslim. Sama halnya di Indonesia, Pattimura yang seorang muslim bahkan cicitnya menyatakan mereka adalah muslim, lalu tiba-tiba menjadi Thomas Mattulesi Pattimura.
Terlepas dari semua hal tersebut, kiranya kita mesti merenungkan ucapan beliau tidak lama setelah mempelajari isi Al-Quran dan sebelum masuk Islam; yang pertama menguntungkan kaum muslimin dan yang kedua membahayakan mereka. Ucapan yang keluar dari mulut politikus besar ini dan menguntungkan kaum muslimin adalah, "Aku telah belajar dari buku ini, dan aku merasa bahwa apabila kaum muslimin mengamalkan aturan-aturan komprehensif buku ini, maka niscaya mereka tidak akan pernah terhinakan."
Adapun kata-kata yang membahayakan kaum muslimin adalah, "Selama Al-Quran ini berkuasa di tengah-tengah kaum muslimin, dan mereka hidup di bawah naungan ajaran-ajarannya yang sangat istimewa, maka kaum muslimin tidak akan tunduk kepada kita, kecuali bila kita pisahkan antara mereka dengan Al-Quran."
Wallahu a’lam.
Sabtu, 17 Desember 2011
Abu Bakar as-Siddiq
Saidina Abu Bakr atau nama sebenarnya Abdullah bin Quhaffah merupakan sahabat Nabi s.a.w yang paling rapat dan paling disayangi. Ini bersesuaian dengan sabda Nabi s.a.w " Perempuan yang paling ku cintai adalah Aisyah r.a manakala lelaki yang paling kucintai adalah bapanya". Keperibadianya yang begitu mulia, ditambah dengan kemurahan hati serta kebijaksanaanya menyebabkan beliau telah dicalunkan sebagai Khalifah pertama selepas kewafatan junjugan besar Rasulullah s.a.w.
Beliau merupakan seorang tokoh perniagaan yang kaya dan datang dari keluarga bangsawan yang dihormati oleh masyarakat Arab Quraisy. Beliau dari segi umur adalah dua tahun lebih muda daripada Nabi s.a.w . Beliau tidak pernah minum arak. Pengorbanannya yang begitu besar begitu dihargai oleh Rasulullah s.a.w dengan sabdanya " Islam tertegak diatas harta Khadijah r.a dan pengorbanan Saidina Abu bakr r.a".
Beliau merupakan orang ketiga memerluk Islam selepas Saidina Ali Karramallahuwajhah dan Zaid bin Harithah, hamba kepunyaan Nabi pada masa itu. Selepas keislamanya, dia terus berda'wah dan dapat mengislamkan beberapa orang sahabat yang agung (As-Sabiqun Awwalun) termasuk Uthman bin Affan, Abdul Rahman Auf, Zubir AiAwwam Saad bin Waqqas dan ramai lagi. Semasa beliau membeli Bilal Bin Rabah yang telah diseksa oleh tuannya ,beliau telah ditanya mengapa beliau membeli bilal yang sudah tidak dapat bekerja berat akibat seksaan itu. Beliau menyawab " aku membeli jiwanya ". yakni keteguhan Bilal mempertahankan keEsaan Allah. Perbagai cabaran gentir dan siksaan yang pernah beliau hadapi dalam menegakkan agama Allah. Beliau pernah dipukul dan dipijak sehingga dapat dikenali cuma melali hidungnya,kerana teruknya luka yang dialaminya. Tentang keimanannya yang begitu mantap, pernah Rasulullah s.a.w bersabda " Jika ditimbang iman Saidina Abu Bakr dengan sekelian ummat, nescaya berat lagi iman Saidina Abu Bakr" .
Gelaran As-Siddiq diperolehi beliau lantaran sikapnya yang senantiasa membenarkan kata Nabi s.a.w . Mengenai gelaran ini pernah ada ulama' yang mentafsirkannya dengan bermaksud " Mempercayai Allah dan Rasulnya dengan berpegang pada sifat-sifat kesempurnaan Allah dan sifat-sifat kemulian Rasulnya mengatasi akal fikiran semata-mata ". Pernah Nabi s.a.w bersabda " Andainya sekelian manusia akan mendustakan Muhammad s.a.w , Saidina Abu Bakr lah yang akan tampil dengan penuh keyakinan untuk membela ku ". Antara peristiwa dan pengiktirafan oleh sahabat yang membenarkan gelaran ini :-
1.Semasa peristiwa Isra' dan mi'raj di mana peristiwa yang luar biasa ini tidak dipercayai oleh seluruh masyarakat jahiliyah dan mereka telah datang menemui saidina Abu Bakr. Tetapi Saidina Abu Bakr telah berkata " sekiranya Muhammad s.a.w yang memberitahu ini maka aku percaya, malah lebih dari itu lagipun aku mempercayai ".
2.Rasulullah s.a.w pernah bersabda " Tidaklah aku menyeru sesiapa pun kepada Islam melainkan dia teragak-agak dan melewatkannya kecuali Saidina Abu Bakr".
3.Saidina Umar r.a bertanya pada Saidina Abu Bakr selepas termetrinya perjanjian Hudaibiyah " Wahai Abu Bakr bukankah dia Rasulullah ?. Abu Bakr menjawab " Ya " . Umar r.a bertanya lagi " Bukankah kita ini orang-orang Islam ?. " Ya " , jawab Abu Bakr. Lalu umar bertanya lagi " Kalau begitu mengapa kita menerima cara yang hina ini ?. Bila ditanya oleh Saidina Umar soalan yang sama maka Rasulullah bersabda " Aku ini hamba Allah dan rasulnya ; aku tidak akan sekali-kali menyalahi perintahnya dan aku tidak sekali-kali dipersia-siakan" . Pada masa ini kebanyakan sahabat tidak bersetuju dengan perjanjian Hudaibiyah di mana mereka tidak dibenarkan menunaikan ibadab haji pada tahun itu,sehingga mereka tidak menyembelih binatang dan bersuci setelah disuruh oleh Nabi sebanyak tiga kali, kerana begitu kasih dan sayang pada Rasulullah . Lalu Rasulullah menerima cadangan yang bernas daripada Ummu Mu'minin, Ummu salamah supaya Rasulullah meneruskan sahaja penyembelihan itu seolah-olah wahyu dari Allah dan ini telah dikuti oleh para sahabat.
4.Aqalah bin Mu'it la'natullah pernah menjerut leher Rasulullah SAW tetapi telah dilihat oleh Saidina Abu Bakar yang segera menghalangnya lalu berkata, "Adakah kamu mahu membunuh seorang yang berkata Tuhanku adalah Allah?".
5.Saidina Abu Bakar juga telah meneruskan tindakan Rasulullah SAW sebelum kewafatannya menghantar tentera yang dipimpin oleh Usamah keluar berperang walaupun tidak dipersetujui oleh para sahabat kerana perlunya tindakan untuk mengatasi gejala murtad selepas kewafatan Nabi SAW kerana terdapat orang Islam yang tidak ingin membayar zakat atau membayar dengan tidak sempurna. Khalifah Abu Bakar telah melantik Khalid Aw-Walid untuk mengetuai kumpulan memerangi orang-orang yang murtad ini.
6.Saidina Umar pernah berkata " Sesungguhnya di dalam syurga Admin terdapat sebuah mahligai . Ia mempunyai 500 pintu. Setiap pintu ada 5000 bidadari : tidak akan masuk kedalamnya melainkan Nabi-nabi sambil menoleh ke arah maqam Nabi s.a.w atau orang-orang yang benar, sambil memandang ke arah maqam Saidina Abu Bakr, atau orang yang syahid sambil menunjuk ke arah dirinya dengan mengaharapkan dia memperolehi syahid".
7.saidina Uthman Affan pernah mengatakan bahawa Saidina Abu Bakr layak mengantikan nabi s.a.w kerana dia As-Siddiq dan menjadi Imam solat sewaktu Rasulullah s.a.w uzur.
Saidina Abu Bakr telah diberi penghormatan untuk menemani Nabi s.a.w untuk berhijrah,beliau begitu gembira sekali mendengarnya sehinggakan Syaidatina Aisyah r.a mengatakan bahawa beliau tidak pernah melihat bapanya begitu gembira sekali melaikan pada hari itu. Dalam keadaan yang penuh gelisah di gua Thur , Allah telah menurunkan ayatnya menceritakan peristiwa ini didalam surah at-Taubah. saidina Abu Bakr telah berkata " Yang saya bimbangkan bukanlah mengenai diri saya sendiri, kalau saya terbunuh yang tewas hanyalah seorang manusia biasa. Tapi andaikata Tuan sendiri dapat dibunuh, maka hancurlah satu cita-cita yang murni. yang akan runtuh ialah keadilan dan yang akan tertegak adalah kezaliman" . Begitulah cintanya saidina Abu Bakr kepada Rasulellah s.a.w. saidina Abu Bakr begitu sedih mendegar munajat Nabi s.a.w semasa perang Badar yang begitu mengharapkan kemenagan keatas tentera Islam lalu Beliau berkata " cukuplah Ya Rasulullah".
Semasa dalam satu khutbah Rasulullah s.a.w ada menyebut bahawa kepada seseorang hamba Allah ditawarkan untuk memilih dunia dan memilih ganjaran yang disediakan oleh Allah ; dan hamba tersebut tidak akan memilih dunia melaikan memilih apa yang di sisi Allah. Mendengarnya, menangislah tersedu-sedu saidina Abu Bakr kerana beliau faham akan maksud khutbah itu, yakni umur Rasulullah di dunia sudah hampir berakhir.
Saidina Ali penah mengatakan bahawa saidina abu Bakrlah sahabat Nabi s.a.w yang paling berani kerana sangup melindungi Nabi s.a.w untuk menghadapi perang Badar di saat para sahabat yang lain berdiam diri bila Nabi s.a.w mengacukan soalan itu. saidina Abu Bakr telah menyertai hampir semua Ghazwah yang disertai oleh nabi s.a.w. Beliau juga merupakan sahabat yang paling banyak mengeluarkan hartanya untuk Islam. Sewaktu perang Tabuk beliau telah membawa 4000 dirham iaitu semua hartanya yang tinggal. Lalu ditanya oleh Rasulullah "apakah yang ditinggalkan untuk keluarga mu "lalu beliau menjawab, "Saya tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasulnya ". saidina Umar pernah berkata " Tidak kami berlumba-lumba dalam membuat kebaikan melaikan dia saidina Abu Bakr pasti akan mendahuluiku".
Saidina Umar juga pernah berkata " Suatu malam dan satu hari saidina Abu Bakr lebih baik daripada Umar dan keluarganya". Satu malam semasa Hijrah bersama Nabi s.a.w manakala satu hari adalah di hari kewafatan Rasulullah s.a.w diaman saidina Abu Bakr dengan tenang tetapi tegas mengahadapi saat getir itu, ditambah dengan gejala murtad yang melandai sebahagian umat Islam pada masa itu. Beliau berkata " Wahai kaum muslimin, barangsiapa yang menyembah Muhammad, maka Muhammad telah mati, Tetapi barang siapa menyembah Allah,maka Allah selama-lamanya hidup tidak mati" seraya menyambung lagi dengan ayat Al-Quran, surah Ali-Imran :144
" Muhammad itu tidak lebih dari seorang rasul seperti Rasul-rasul yang terdahulu darinya, Jika ia mati atau terbunuh, patutkah kamu berundur kebelakang. Sesiapa yang surut kebelakang , dia tidak membahayai Allah sedikit pun dan sesungguhnya Allah akan memberi ganjaran kepada orang-orang yang bersyukur." Ali-Imran 144.
( Ayat ini turun semasa perang Uhud di mana tersebar fitnah bahawa Rasulullah telah terbunuh. menyebabkan tentera Islam hampir putus asa).
Setelah dialantik menjadi Khaifah Rasulullah ( atas cadangan saidina Umar r.a dengan dipersetujui oleh sahabat) beliau telah memberi satu ucapan yang mahsyur, antaranya : " Wahai sekelian umat ! aku telah dipilih menjadi peminpin kamu padahal aku ini bukanlah orang yang terbaik diantara kamu. Sebab itu jika pemerintahan ku baik, maka sokonglah ; tetapi jika ianya tidak baik perbaikilah. orang yang lemah diantara kamu adalah kuat disisiku hingga aku harus menolongnya mendapatkan haknya, sedang orang yang kuat diantara kamu adalah lemah disisiku hingga aku harus mengambil hak orang lain padanya untuk dikembalikan kepada yang berhak semula. Patuhilah aku selama aku patuh kepada Allah dan RasulNya. Akan tetapi jika aku menderhakai Allah, maka kamu sekelian tidak harus lagi patuh kepada ku".
Saidina Abu Bakr hidup seperti rakyat biasa dan tidak suka didewa-dewakan. Pernah orang memangilnya" ya Khalifah Allah" lalu dijawabnya " Saya bukan Khalifah Allah, saya hanyalah Khalifah Rasulnya"Sehari selepas dilantik, saidina Abu Bakr telah pergi kepasar dengan membawa barang perniagaannya, lalu ditegur oleh Abu Ubaidah Ibnu Jarrah, " Urusan Khalifah tidak boleh dicampuru dengan perniagaan". Lalu Khalifah bertanya "Habis,apa yang harus saya berikan pada keluarga saya?". Semenjak hari itu Kahlifah mendapat peruntukan wang daripada Baitul-mal dan saidina Abu Bakr pun menghentikan perniagaannya untuk menumpukan kerja sebagaiseorang Khalifah. Namun tidak berapa lama sebelum beliau meninggal dunia, beliau telah mengembalikan semula wang Baitul-mal kerana berpendapat bahawa tenaga yang dicurahkanya tidak sepadan dengan duit Baitu-mal yang diperolehi itu dengan sebab-sebab keuzurannya.
Saidina Abu Bakr mengalakan sahabat-sahabat keluar berjihat, dengan menyebarkan ajaran Islam ke tempat-tempat baru. Beliau mengarahkan wakilnya menawarkan tiga pekara kepada pemerintah disitu, iaitu samaada memilih Islam, tunduk kepada pemerintahan Islam dengan membayar Jizyah( sekiranya tidak mahu menganut Islam ) atau perang ( sekiranya menulak kedua-dua pilihan yang diberi itu). Di zaman Khalifah Umar r.a beliau yang lebih keras memberi tempuh selama tiga hari untuk memilih sama ada Islam ataupun berperang.
Sebelum meninggal dunia, selepas hampir dua setengah tahun menjadi Khalifah beliau telah berpesan kepada saidina Umar : "Janganlah hendaknya sesuatu bencana walau bagaimana besar pun dapat melupakan kamu dari urusan agama dan wasiat Allah. Engkau telah melihat apa yang aku lakukan tatkala Rasulullah wafat, sedang wafatnya Rasulullah itu adalah satu bencana yang belum penah manuasia ditimpa bencana sebesar itu. Demi Allah, andaikata diwaktu itu aku melalaikan perintah Allah dan Rasulnya , tentu kita telah jatuh dan mendapat siksaan Allah, dan pasti pula Kota Madinah itu telah menjadi lautan api ".
Saidiana Abu Bakr meninggal dunia ketika berumur 63 tahun dengan menyediakan tiang-tiang pokok dari kekuatan Islam yang memudahkan lagi kerja-kerja penyebaran da'wah oleh Khalifah seterusnya iaitu Khalifah Umar Al-Khattab, yang mana sebahagian Syam dan Iraq telah berada dibawah pemerintahan Islam ketika hayat beliau.
Rujukan :-
1 . Fiqh Al-Harakah 1 & 2 - Tuan Guru Ustaz Haji Abdul Hadi Awang
2 . Hayatus-Sahabah 1,2,3 dan 4 - Syeikh Myuhamad Yusuf Al- Kardahlawi.
3 . Tokoh-tokoh Islam dulu dan sekarang edisi 5 - H. Luqman Hakim
4 . Al - Quran , Tafsir Usmani - Allama Shabbir Ahmad Usmani.
Beliau merupakan seorang tokoh perniagaan yang kaya dan datang dari keluarga bangsawan yang dihormati oleh masyarakat Arab Quraisy. Beliau dari segi umur adalah dua tahun lebih muda daripada Nabi s.a.w . Beliau tidak pernah minum arak. Pengorbanannya yang begitu besar begitu dihargai oleh Rasulullah s.a.w dengan sabdanya " Islam tertegak diatas harta Khadijah r.a dan pengorbanan Saidina Abu bakr r.a".
Beliau merupakan orang ketiga memerluk Islam selepas Saidina Ali Karramallahuwajhah dan Zaid bin Harithah, hamba kepunyaan Nabi pada masa itu. Selepas keislamanya, dia terus berda'wah dan dapat mengislamkan beberapa orang sahabat yang agung (As-Sabiqun Awwalun) termasuk Uthman bin Affan, Abdul Rahman Auf, Zubir AiAwwam Saad bin Waqqas dan ramai lagi. Semasa beliau membeli Bilal Bin Rabah yang telah diseksa oleh tuannya ,beliau telah ditanya mengapa beliau membeli bilal yang sudah tidak dapat bekerja berat akibat seksaan itu. Beliau menyawab " aku membeli jiwanya ". yakni keteguhan Bilal mempertahankan keEsaan Allah. Perbagai cabaran gentir dan siksaan yang pernah beliau hadapi dalam menegakkan agama Allah. Beliau pernah dipukul dan dipijak sehingga dapat dikenali cuma melali hidungnya,kerana teruknya luka yang dialaminya. Tentang keimanannya yang begitu mantap, pernah Rasulullah s.a.w bersabda " Jika ditimbang iman Saidina Abu Bakr dengan sekelian ummat, nescaya berat lagi iman Saidina Abu Bakr" .
Gelaran As-Siddiq diperolehi beliau lantaran sikapnya yang senantiasa membenarkan kata Nabi s.a.w . Mengenai gelaran ini pernah ada ulama' yang mentafsirkannya dengan bermaksud " Mempercayai Allah dan Rasulnya dengan berpegang pada sifat-sifat kesempurnaan Allah dan sifat-sifat kemulian Rasulnya mengatasi akal fikiran semata-mata ". Pernah Nabi s.a.w bersabda " Andainya sekelian manusia akan mendustakan Muhammad s.a.w , Saidina Abu Bakr lah yang akan tampil dengan penuh keyakinan untuk membela ku ". Antara peristiwa dan pengiktirafan oleh sahabat yang membenarkan gelaran ini :-
1.Semasa peristiwa Isra' dan mi'raj di mana peristiwa yang luar biasa ini tidak dipercayai oleh seluruh masyarakat jahiliyah dan mereka telah datang menemui saidina Abu Bakr. Tetapi Saidina Abu Bakr telah berkata " sekiranya Muhammad s.a.w yang memberitahu ini maka aku percaya, malah lebih dari itu lagipun aku mempercayai ".
2.Rasulullah s.a.w pernah bersabda " Tidaklah aku menyeru sesiapa pun kepada Islam melainkan dia teragak-agak dan melewatkannya kecuali Saidina Abu Bakr".
3.Saidina Umar r.a bertanya pada Saidina Abu Bakr selepas termetrinya perjanjian Hudaibiyah " Wahai Abu Bakr bukankah dia Rasulullah ?. Abu Bakr menjawab " Ya " . Umar r.a bertanya lagi " Bukankah kita ini orang-orang Islam ?. " Ya " , jawab Abu Bakr. Lalu umar bertanya lagi " Kalau begitu mengapa kita menerima cara yang hina ini ?. Bila ditanya oleh Saidina Umar soalan yang sama maka Rasulullah bersabda " Aku ini hamba Allah dan rasulnya ; aku tidak akan sekali-kali menyalahi perintahnya dan aku tidak sekali-kali dipersia-siakan" . Pada masa ini kebanyakan sahabat tidak bersetuju dengan perjanjian Hudaibiyah di mana mereka tidak dibenarkan menunaikan ibadab haji pada tahun itu,sehingga mereka tidak menyembelih binatang dan bersuci setelah disuruh oleh Nabi sebanyak tiga kali, kerana begitu kasih dan sayang pada Rasulullah . Lalu Rasulullah menerima cadangan yang bernas daripada Ummu Mu'minin, Ummu salamah supaya Rasulullah meneruskan sahaja penyembelihan itu seolah-olah wahyu dari Allah dan ini telah dikuti oleh para sahabat.
4.Aqalah bin Mu'it la'natullah pernah menjerut leher Rasulullah SAW tetapi telah dilihat oleh Saidina Abu Bakar yang segera menghalangnya lalu berkata, "Adakah kamu mahu membunuh seorang yang berkata Tuhanku adalah Allah?".
5.Saidina Abu Bakar juga telah meneruskan tindakan Rasulullah SAW sebelum kewafatannya menghantar tentera yang dipimpin oleh Usamah keluar berperang walaupun tidak dipersetujui oleh para sahabat kerana perlunya tindakan untuk mengatasi gejala murtad selepas kewafatan Nabi SAW kerana terdapat orang Islam yang tidak ingin membayar zakat atau membayar dengan tidak sempurna. Khalifah Abu Bakar telah melantik Khalid Aw-Walid untuk mengetuai kumpulan memerangi orang-orang yang murtad ini.
6.Saidina Umar pernah berkata " Sesungguhnya di dalam syurga Admin terdapat sebuah mahligai . Ia mempunyai 500 pintu. Setiap pintu ada 5000 bidadari : tidak akan masuk kedalamnya melainkan Nabi-nabi sambil menoleh ke arah maqam Nabi s.a.w atau orang-orang yang benar, sambil memandang ke arah maqam Saidina Abu Bakr, atau orang yang syahid sambil menunjuk ke arah dirinya dengan mengaharapkan dia memperolehi syahid".
7.saidina Uthman Affan pernah mengatakan bahawa Saidina Abu Bakr layak mengantikan nabi s.a.w kerana dia As-Siddiq dan menjadi Imam solat sewaktu Rasulullah s.a.w uzur.
Saidina Abu Bakr telah diberi penghormatan untuk menemani Nabi s.a.w untuk berhijrah,beliau begitu gembira sekali mendengarnya sehinggakan Syaidatina Aisyah r.a mengatakan bahawa beliau tidak pernah melihat bapanya begitu gembira sekali melaikan pada hari itu. Dalam keadaan yang penuh gelisah di gua Thur , Allah telah menurunkan ayatnya menceritakan peristiwa ini didalam surah at-Taubah. saidina Abu Bakr telah berkata " Yang saya bimbangkan bukanlah mengenai diri saya sendiri, kalau saya terbunuh yang tewas hanyalah seorang manusia biasa. Tapi andaikata Tuan sendiri dapat dibunuh, maka hancurlah satu cita-cita yang murni. yang akan runtuh ialah keadilan dan yang akan tertegak adalah kezaliman" . Begitulah cintanya saidina Abu Bakr kepada Rasulellah s.a.w. saidina Abu Bakr begitu sedih mendegar munajat Nabi s.a.w semasa perang Badar yang begitu mengharapkan kemenagan keatas tentera Islam lalu Beliau berkata " cukuplah Ya Rasulullah".
Semasa dalam satu khutbah Rasulullah s.a.w ada menyebut bahawa kepada seseorang hamba Allah ditawarkan untuk memilih dunia dan memilih ganjaran yang disediakan oleh Allah ; dan hamba tersebut tidak akan memilih dunia melaikan memilih apa yang di sisi Allah. Mendengarnya, menangislah tersedu-sedu saidina Abu Bakr kerana beliau faham akan maksud khutbah itu, yakni umur Rasulullah di dunia sudah hampir berakhir.
Saidina Ali penah mengatakan bahawa saidina abu Bakrlah sahabat Nabi s.a.w yang paling berani kerana sangup melindungi Nabi s.a.w untuk menghadapi perang Badar di saat para sahabat yang lain berdiam diri bila Nabi s.a.w mengacukan soalan itu. saidina Abu Bakr telah menyertai hampir semua Ghazwah yang disertai oleh nabi s.a.w. Beliau juga merupakan sahabat yang paling banyak mengeluarkan hartanya untuk Islam. Sewaktu perang Tabuk beliau telah membawa 4000 dirham iaitu semua hartanya yang tinggal. Lalu ditanya oleh Rasulullah "apakah yang ditinggalkan untuk keluarga mu "lalu beliau menjawab, "Saya tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasulnya ". saidina Umar pernah berkata " Tidak kami berlumba-lumba dalam membuat kebaikan melaikan dia saidina Abu Bakr pasti akan mendahuluiku".
Saidina Umar juga pernah berkata " Suatu malam dan satu hari saidina Abu Bakr lebih baik daripada Umar dan keluarganya". Satu malam semasa Hijrah bersama Nabi s.a.w manakala satu hari adalah di hari kewafatan Rasulullah s.a.w diaman saidina Abu Bakr dengan tenang tetapi tegas mengahadapi saat getir itu, ditambah dengan gejala murtad yang melandai sebahagian umat Islam pada masa itu. Beliau berkata " Wahai kaum muslimin, barangsiapa yang menyembah Muhammad, maka Muhammad telah mati, Tetapi barang siapa menyembah Allah,maka Allah selama-lamanya hidup tidak mati" seraya menyambung lagi dengan ayat Al-Quran, surah Ali-Imran :144
" Muhammad itu tidak lebih dari seorang rasul seperti Rasul-rasul yang terdahulu darinya, Jika ia mati atau terbunuh, patutkah kamu berundur kebelakang. Sesiapa yang surut kebelakang , dia tidak membahayai Allah sedikit pun dan sesungguhnya Allah akan memberi ganjaran kepada orang-orang yang bersyukur." Ali-Imran 144.
( Ayat ini turun semasa perang Uhud di mana tersebar fitnah bahawa Rasulullah telah terbunuh. menyebabkan tentera Islam hampir putus asa).
Setelah dialantik menjadi Khaifah Rasulullah ( atas cadangan saidina Umar r.a dengan dipersetujui oleh sahabat) beliau telah memberi satu ucapan yang mahsyur, antaranya : " Wahai sekelian umat ! aku telah dipilih menjadi peminpin kamu padahal aku ini bukanlah orang yang terbaik diantara kamu. Sebab itu jika pemerintahan ku baik, maka sokonglah ; tetapi jika ianya tidak baik perbaikilah. orang yang lemah diantara kamu adalah kuat disisiku hingga aku harus menolongnya mendapatkan haknya, sedang orang yang kuat diantara kamu adalah lemah disisiku hingga aku harus mengambil hak orang lain padanya untuk dikembalikan kepada yang berhak semula. Patuhilah aku selama aku patuh kepada Allah dan RasulNya. Akan tetapi jika aku menderhakai Allah, maka kamu sekelian tidak harus lagi patuh kepada ku".
Saidina Abu Bakr hidup seperti rakyat biasa dan tidak suka didewa-dewakan. Pernah orang memangilnya" ya Khalifah Allah" lalu dijawabnya " Saya bukan Khalifah Allah, saya hanyalah Khalifah Rasulnya"Sehari selepas dilantik, saidina Abu Bakr telah pergi kepasar dengan membawa barang perniagaannya, lalu ditegur oleh Abu Ubaidah Ibnu Jarrah, " Urusan Khalifah tidak boleh dicampuru dengan perniagaan". Lalu Khalifah bertanya "Habis,apa yang harus saya berikan pada keluarga saya?". Semenjak hari itu Kahlifah mendapat peruntukan wang daripada Baitul-mal dan saidina Abu Bakr pun menghentikan perniagaannya untuk menumpukan kerja sebagaiseorang Khalifah. Namun tidak berapa lama sebelum beliau meninggal dunia, beliau telah mengembalikan semula wang Baitul-mal kerana berpendapat bahawa tenaga yang dicurahkanya tidak sepadan dengan duit Baitu-mal yang diperolehi itu dengan sebab-sebab keuzurannya.
Saidina Abu Bakr mengalakan sahabat-sahabat keluar berjihat, dengan menyebarkan ajaran Islam ke tempat-tempat baru. Beliau mengarahkan wakilnya menawarkan tiga pekara kepada pemerintah disitu, iaitu samaada memilih Islam, tunduk kepada pemerintahan Islam dengan membayar Jizyah( sekiranya tidak mahu menganut Islam ) atau perang ( sekiranya menulak kedua-dua pilihan yang diberi itu). Di zaman Khalifah Umar r.a beliau yang lebih keras memberi tempuh selama tiga hari untuk memilih sama ada Islam ataupun berperang.
Sebelum meninggal dunia, selepas hampir dua setengah tahun menjadi Khalifah beliau telah berpesan kepada saidina Umar : "Janganlah hendaknya sesuatu bencana walau bagaimana besar pun dapat melupakan kamu dari urusan agama dan wasiat Allah. Engkau telah melihat apa yang aku lakukan tatkala Rasulullah wafat, sedang wafatnya Rasulullah itu adalah satu bencana yang belum penah manuasia ditimpa bencana sebesar itu. Demi Allah, andaikata diwaktu itu aku melalaikan perintah Allah dan Rasulnya , tentu kita telah jatuh dan mendapat siksaan Allah, dan pasti pula Kota Madinah itu telah menjadi lautan api ".
Saidiana Abu Bakr meninggal dunia ketika berumur 63 tahun dengan menyediakan tiang-tiang pokok dari kekuatan Islam yang memudahkan lagi kerja-kerja penyebaran da'wah oleh Khalifah seterusnya iaitu Khalifah Umar Al-Khattab, yang mana sebahagian Syam dan Iraq telah berada dibawah pemerintahan Islam ketika hayat beliau.
Rujukan :-
1 . Fiqh Al-Harakah 1 & 2 - Tuan Guru Ustaz Haji Abdul Hadi Awang
2 . Hayatus-Sahabah 1,2,3 dan 4 - Syeikh Myuhamad Yusuf Al- Kardahlawi.
3 . Tokoh-tokoh Islam dulu dan sekarang edisi 5 - H. Luqman Hakim
4 . Al - Quran , Tafsir Usmani - Allama Shabbir Ahmad Usmani.
Kamis, 15 Desember 2011
Intelijen Nabi Mengobrak-abrik Musuh Islam
Sebagai panglima perang, Rasulullah SAW memiliki kemampuan untuk membaca keistimewaan yang dimiliki para shahabatnya, untuk menempatkan mereka sesuai dengan bakat dan kesanggupannya.
Tak heran jika Rasulullah memiliki beberapa orang yang bisa disebut spion. Selain memata-matai pergerakan musuh, tugasnya mereka adalah memegang teguh daftar nama-nama orang munafik dan memata-matai mereka.
Itulah bukti bahwa Nabi sudah memikirkan betapa pentingnya intelijen. Prinsip intelijen yang dilakukan Nabi SAW adalah menggunakan informasi satu pintu. Dari para agen langsung kepada Rasul dan tidak membocorkan pada orang lain, termasuk kepada para shahabat, bahkan istrinya sendiri.
Berikut ini adalah para shahabat Nabi, yang pernah ditugaskan menjalankan operasi intelijen di jantung musuh:
Hudzaifah Ibnul Yaman, Intel Nabi
Dalam sejarah Islam tercatat nama Hudzaifah Ibnul Yaman sebagai salah satu agen intelijen atau spion andalan Rasulullah dalam menghadapi orang-orang kafir dan munafik yang ingin memerangi Islam dan kaum Muslimin.
Ibnul Yaman yang mendapat gelar Shahibu Sirri Rasulullah (Pemegang Rahasia Rasulullah) itu dinilai Rasulullah sebagai orang yang bisa dipercaya, mampu menjaga rahasia, memiliki ingatan yang kuat, cerdik dan cerdas dalam mengolah informasi. Ibnul Yaman juga dikenal sosok yang mudah bergaul yang memudahkannya untuk menjalankan operasi mata-mata.
Salah satu tugas penting yang diemban Ibnul Yaman adalah pada saat Perang Khandaq (Perang Parit). Ketika itu, Rasulullah menugaskan Ibnul Yaman untuk memata-matai pasukan kafir Quraisy dari Mekkah yang berkekuatan 10.000 ribu orang, ditambah bantuan kekuatan dari orang-orang Yahudi. Mereka berencana untuk menyerang kota Madinah yang hanya memiliki kekuatan 3.000 orang pasukan perang.
Untuk menghadapi pasukan Yahudi dan Quraisy di bawah pimpinan Abu Sufyan, Rasulullah menerapkan strategi bertahan dengan membuat parit di sekeliling kota Madinah. Pada suatu malam, Rasulullah mengutus Hudzaifah Ibnul Yaman untuk menyusup ke tengah pasukan lawan. Ketika Ibnul Yaman ditugaskan di tengah udara yang sangat dingin disertai angin kencang, Rasulullah pun berdoa untuk shahabatnya itu: ”Ya Allah! Lindungi dia, dari hadapan, belakang, kanan, kiri, atas, dan bawah.”
Mudah bagi Ibnu Yaman untuk berbaur ke dalam pasukan lawan, karena Hudzaifah memiliki darah suku bangsa di Mekkah sehingga tidak mudah dikenali sebagai orang asing. Di pihak pasukan lawan, ada kebiasaan yang dilakukan setiap rapat. Sebelum rapat, orang-orang yang hadir harus memastikan bahwa orang-orang di sekelilingnya adalah teman dengan menanyakan nama dan asal-usulnya untuk memastikan bahwa pertemuan mereka aman.
Agar penyamarannya tidak terbongkar, Hudzaifah selalu lebih dulu mencekal tangan orang di sebelahnya dan bertanya ”Siapa namamu? Dari mana asalmu?” Orang yang ditanya akan terkejut karena mengira posisi Hudzaifah pasti salah satu pimpinan tertinggi sehingga bertanya lebih dulu. Orang yang ditanya pun langsung menyebutkan nama serta asalnya. Hudzaifah pun selamat dan bisa mengikuti rapat serta mendapatkan informasi penting dari hasil rapat tersebut. Salah satunya, informasi bahwa pasukan Abu Sufyan akan mundur karena merasa pasukannya tidak akan memenangkan pertempuran melawan Rasulullah dan pasukannya di kota Madinah.
Sebenarnya, pada saat itu posisi duduk Hudzaifah sangat dekat dengan Abu Sufyan sehingga ia bisa saja menebas lehernya jika mau. Namun sebagai spionase dia harus tersamar dan tidak melakukan ha-hal mencurigakan musuh.
Dalam melaksanakan tugasnya sebagai mata-mata, Hudzaifah juga sangat hati-hati dan tidak bersikap yang bisa menimbulkan kecurigaan. Hudzaifah juga sangat kuat memegang teguh kepercayaan yang telah diberikan Rasulullah SAW kepadanya untuk memegang daftar orang-orang munafik. Bahkan ketika shahabat Rasulullah SAW, Umar bin Khatthab menanyakan perihal daftar nama itu, Hudzaifah menolak memberikannya.
Daftar orang-orang munafik harus dihafal tidak boleh dicatat. Informasi ini tidak boleh jatuh ke tangan orang lain, agar tidak menimbulkan keresahan. Kepada orang munafik ini Rasulullah tidak mennyolatkannya jika meninggal.
Umar Bin Khatthab (saat itu sudah menjadi Khalifah) pernah meminta Hudzaifah membeberkan siapa saja orang munafik itu. Namun dengan kukuh dia menolaknya. Untuk mengetahui siapa orang-orang yang masuk daftar orang munafik itu, Umar hanya bisa menunggu dan mengamati jika ada rakyatnya yang meninggal. Kuncinya, jika Hudzaifah tidak menyolatkannya, itu berarti orang tersebut tergolong munafik. Begitulah kisah Hudzaifah Ibnul Yaman Spion penting di zaman pemerintahan Islam.
Abdullah bin Unis
Rasulullah juga pernah melakukan operasi intelijen dan misi rahasia ke pasukan musuh. Seorang shahabat Abdullah bin Unis dikirim Rasulullah menyusup masuk ke dalam pusat kekuatan musuh. Sasaran utama misi itu adalah Bani Lihyaan dari Kabilah Huzail yang dipimpin oleh panglima mereka, Khalid bin Sofyan Al-Hazaly.
Misi ini dilakukan karena umat Islam mendapatkan kabar bahwa Khalid bin Sofyan Al-Hazaly tengah berupaya mengadakan pemusatan kekuatan pasukan gabungan kaum kafir yang cukup besar di daerah Uranah untuk menyerang Islam. Karena itu, Rasulullah mengirim Abdullah bin Unis untuk melakukan misi pengintaian sekaligus penyelidikan untuk membenarkan kabar berita tersebut.
Abdullah kemudian berangkat dan melakukan menyamaran. Tak terduga, di tengah jalan, Abdullah bertemu Khalid yang ditemani beberapa wanita dan pasukannya. Khalid kemudian menyapa Abdullah, “Hai laki-laki, siapa gerangan Engkau?”
Jawab Abdullah, “Saya adalah laki-laki Arab juga. Saya mendengar bahwa engkau telah memusatkan kekuatan pasukan untuk menyerang Muhammad. Apakah benar demikian?” tanya Abdullah. Dan tanpa curiga, Khalid membenarkan rencananya itu.
Abdullah meminta diperbolehkan bergabung dan meminta diizinkan menemani Khalid. Tanpa curiga, Khalid mengizinkannya. Suatu kali, Abdullah mendapatkan Khalid sendirian dan terpisah dari pasukan utamanya. Abdullah tak menyia-nyiakan kesempatan emas itu, secepat kilat, Abdullah kemudian menyergap Khalid dan membunuh pemimpin kaum kafir itu dengan pedangnya. Peristiwa itu membuat kaum kafir gempar. Pasukan musyrikin geger dan urung menyerang umat Islam karena diketahui pemimpinnya telah tiada. Abdullah kemudian pulang ke Madinah setelah melakukan misi rahasianya.
Abdullah bin Jahsy Asady
Bulan Jumadil Akhir 1424, seorang shahabat bernama Abdullah bin Jahsy Asady, beserta dua belas shahabat dari kalangan Muhajirin diperintahkan Rasulullah berangkat untuk menjalankan sebuah operasi intelijen rahasia. Ikut dalam rombongan itu Sa’ad bin Abi Waqqash dan ’Utbah bin Ghazwan. Rasulullah SAW memberinya sebuah surat yang boleh dibaca jika perjalanan mereka sudah mencapai dua hari.
Setelah dua hari dalam perjalanan, sang komandan, Abdullah bin Jahsy kemudian membuka isi surat tersebut. Isinya, tak lain adalah sebuah perintah untuk memata-matai musuh: ”Berangkatlah menuju Nikhlah, antara Mekkah dan Tha’if. Intailah keadaan orang orang Quraisy di sana dan laporkan kepada kami keadaan mereka.” Selepas membaca surat itu, Abdullah bin Jahsy dan para rombongan kemudian berujar, ”Kutaati perintah ini!”
Kemudian diceritakanlah isi surat Rasulullah tersebut kepada para shahabatnya yang lain seraya berkata, ”Rasulullah telah melarang aku memaksa seorang pun dari kalian. Siapa yang ingin mati sebagai pahlawan syahid, marilah berjalan terus bersama aku, dan siapa yang tidak menyukai hal tersebut hendaklah dia pulang…!”
Saat melalukan pembebasan negeri Mekkah dari suku Quraisy, Nabi Muhammad –ketika itu berencana– akan mengerahkan 10.000 pasukan tentara Muslim. Untuk mempertahankan ‘serangan mendadak’ ini, Rasulullah kemudian melepaskan petugas intelijennya menuju Mekkah yang ditugaskan mengacaukan informasi pada musuh agar mereka tidak mengerti bila pasukan Islam yang berencana melakukan serangan mendadak itu jumlahnya banyak.
Untuk kepentingan intelijen dan kerahasiaan militer, Nabi Muhammad bahkan menyimpan rapat-rapat informasi jumlah pasukan ini bahkan kepada istri tercinta Aisyah atau pada shahabat kepercayaannya sendiri, Abu Bakar Ash-Shidiq.
Esoknya, dalam penyerangan mendadak itu kau kafir Quraisy benar-benar kelabakan dan kedodoran. Mereka tak menyangka di pagi hari buta itu, telah datang puluhan ribu orang dari pasukan Islam di kota Mekkah. Tanpa persiapan, mereka kemudian menyerah. Muhammad paham, orang Quraisy tak akan melakukan perlawanan. Sebab, di tangannya, Rasulullah telah menguasai informasi kekuatan musuh, situasi yang bakal terjadi, hingga informasi logistik, menyangkut keadaan jalan-jalan yang akan dilalui pasukan Islam dan kondisi mata air. Detil, rapi dan rahasia. Itulah strategi Muhammad dalam menjalankan perang dan intelijen.
Nu’aim bin Mas’ud Al-Ghathafany
Dalam misi intelijen Rasulullah juga pernah melakukan propaganda untuk memperlemah kekuatan musuhnya. Dalam kisah, pernah suatu ketika kekuatan musuh gabungan porak-poranda dan bercerai-berai akibat tidak adanya kekompakan di antara mereka akibat propaganda yang dilancarkan Nu’aim bin Mas’ud Al-Ghathafany, mantan musuh yang kemudian bergabung ke pasukan Islam. Nu’aim melakukan psycho war (perang urat syarat) dan propaganda yang membuat kekuatan musuh goyah dan bercerai-berai.
Rasulullah juga pernah melakukan tipuan yang kreatif untuk mengecoh lawan dalam peperangan. Suatu kali, ketika Rasulullah berencana akan berperang dengan kaum Quraisy. Di sebuah tempat, di Marru Dzahraan, tempat Rasulullah dan pasukannya bermarkas, beliau memerintahkan seluruh pasukannya menyalakan obor.
Nyala obor 10.000 orang pasukan Islam itu kemudian bercahaya ke seluruh penjuru kota hingga kaum Quraisy melihatnya dari kejauhan. Melihat cahaya api pasukan Islam, Abu Sofyan berkata, “Belum pernah saya melihat malam seperti terbakar ini dan belum pernah pula saya melihat ada pasukan seperti ini!” Cerita itu kemudian cepat tersebar dari mulut ke mulut hingga sampai ke para pemimpin kaum Quraisy dan pasukan kafir.
Akibat taktik itu, Rasulullah berhasil mengecoh lawan dengan mengesankan pasukan muslimin luar biasa banyaknya hingga membuat nyali pasukan musuh menjadi ciut. Sebagian kaum kafir bahkan berlarian memeluk Islam agar aman, sebagian lainnya tetap melawan meski sudah tak lagi memiliki keberanian akibat sudah kalah secara psikologis. Dan Rasulullah akhirnya mampu menguasai Mekkah tanpa ada perlawanan yang berarti. [Desastian/voa-islam.com]
Tak heran jika Rasulullah memiliki beberapa orang yang bisa disebut spion. Selain memata-matai pergerakan musuh, tugasnya mereka adalah memegang teguh daftar nama-nama orang munafik dan memata-matai mereka.
Itulah bukti bahwa Nabi sudah memikirkan betapa pentingnya intelijen. Prinsip intelijen yang dilakukan Nabi SAW adalah menggunakan informasi satu pintu. Dari para agen langsung kepada Rasul dan tidak membocorkan pada orang lain, termasuk kepada para shahabat, bahkan istrinya sendiri.
Berikut ini adalah para shahabat Nabi, yang pernah ditugaskan menjalankan operasi intelijen di jantung musuh:
Hudzaifah Ibnul Yaman, Intel Nabi
Dalam sejarah Islam tercatat nama Hudzaifah Ibnul Yaman sebagai salah satu agen intelijen atau spion andalan Rasulullah dalam menghadapi orang-orang kafir dan munafik yang ingin memerangi Islam dan kaum Muslimin.
Ibnul Yaman yang mendapat gelar Shahibu Sirri Rasulullah (Pemegang Rahasia Rasulullah) itu dinilai Rasulullah sebagai orang yang bisa dipercaya, mampu menjaga rahasia, memiliki ingatan yang kuat, cerdik dan cerdas dalam mengolah informasi. Ibnul Yaman juga dikenal sosok yang mudah bergaul yang memudahkannya untuk menjalankan operasi mata-mata.
"….Rasulullah menugaskan Ibnul Yaman untuk memata-matai pasukan kafir Quraisy yang berkekuatan 10.000 ribu orang ….
Salah satu tugas penting yang diemban Ibnul Yaman adalah pada saat Perang Khandaq (Perang Parit). Ketika itu, Rasulullah menugaskan Ibnul Yaman untuk memata-matai pasukan kafir Quraisy dari Mekkah yang berkekuatan 10.000 ribu orang, ditambah bantuan kekuatan dari orang-orang Yahudi. Mereka berencana untuk menyerang kota Madinah yang hanya memiliki kekuatan 3.000 orang pasukan perang.
Untuk menghadapi pasukan Yahudi dan Quraisy di bawah pimpinan Abu Sufyan, Rasulullah menerapkan strategi bertahan dengan membuat parit di sekeliling kota Madinah. Pada suatu malam, Rasulullah mengutus Hudzaifah Ibnul Yaman untuk menyusup ke tengah pasukan lawan. Ketika Ibnul Yaman ditugaskan di tengah udara yang sangat dingin disertai angin kencang, Rasulullah pun berdoa untuk shahabatnya itu: ”Ya Allah! Lindungi dia, dari hadapan, belakang, kanan, kiri, atas, dan bawah.”
Mudah bagi Ibnu Yaman untuk berbaur ke dalam pasukan lawan, karena Hudzaifah memiliki darah suku bangsa di Mekkah sehingga tidak mudah dikenali sebagai orang asing. Di pihak pasukan lawan, ada kebiasaan yang dilakukan setiap rapat. Sebelum rapat, orang-orang yang hadir harus memastikan bahwa orang-orang di sekelilingnya adalah teman dengan menanyakan nama dan asal-usulnya untuk memastikan bahwa pertemuan mereka aman.
Agar penyamarannya tidak terbongkar, Hudzaifah selalu lebih dulu mencekal tangan orang di sebelahnya dan bertanya ”Siapa namamu? Dari mana asalmu?” Orang yang ditanya akan terkejut karena mengira posisi Hudzaifah pasti salah satu pimpinan tertinggi sehingga bertanya lebih dulu. Orang yang ditanya pun langsung menyebutkan nama serta asalnya. Hudzaifah pun selamat dan bisa mengikuti rapat serta mendapatkan informasi penting dari hasil rapat tersebut. Salah satunya, informasi bahwa pasukan Abu Sufyan akan mundur karena merasa pasukannya tidak akan memenangkan pertempuran melawan Rasulullah dan pasukannya di kota Madinah.
Sebenarnya, pada saat itu posisi duduk Hudzaifah sangat dekat dengan Abu Sufyan sehingga ia bisa saja menebas lehernya jika mau. Namun sebagai spionase dia harus tersamar dan tidak melakukan ha-hal mencurigakan musuh.
Dalam melaksanakan tugasnya sebagai mata-mata, Hudzaifah juga sangat hati-hati dan tidak bersikap yang bisa menimbulkan kecurigaan. Hudzaifah juga sangat kuat memegang teguh kepercayaan yang telah diberikan Rasulullah SAW kepadanya untuk memegang daftar orang-orang munafik. Bahkan ketika shahabat Rasulullah SAW, Umar bin Khatthab menanyakan perihal daftar nama itu, Hudzaifah menolak memberikannya.
"…Dalam melaksanakan tugasnya sebagai mata-mata, Hudzaifah sangat hati-hati agar tidak menimbulkan kecurigaan. Ia sangat kuat memegang teguh kepercayaan yang telah diberikan Rasulullah SAW kepadanya….Tugas lain yang diberikan oleh Rasulullah adalah memonitor orang-orang munafik yang tinggal dikota Madinah. Ketika itu kaum Muslimin menghadapi kesulitan besar dalam menghadapi kaum Yahudi munafik dan sekutunya yang selalu membuat isu-isu dan muslihat jahat terhadap Rasulullah dan para shahabat. Untuk menghadapi kesulitan ini, Rasulullah mempercayakan suatu yang sangat rahasia kepada Hudzaifah Ibnul Yaman Untuk memonitor setiap gerak-gerik dan kegiatan mereka, dengan target memberikan daftar nama orang munafik itu kepada Nabi Saw. Informasi tersebut diperlukan untuk mencegah bahaya yang mungkin dilontarkan musuh terhadap Islam dan kaum muslimin.
Daftar orang-orang munafik harus dihafal tidak boleh dicatat. Informasi ini tidak boleh jatuh ke tangan orang lain, agar tidak menimbulkan keresahan. Kepada orang munafik ini Rasulullah tidak mennyolatkannya jika meninggal.
Umar Bin Khatthab (saat itu sudah menjadi Khalifah) pernah meminta Hudzaifah membeberkan siapa saja orang munafik itu. Namun dengan kukuh dia menolaknya. Untuk mengetahui siapa orang-orang yang masuk daftar orang munafik itu, Umar hanya bisa menunggu dan mengamati jika ada rakyatnya yang meninggal. Kuncinya, jika Hudzaifah tidak menyolatkannya, itu berarti orang tersebut tergolong munafik. Begitulah kisah Hudzaifah Ibnul Yaman Spion penting di zaman pemerintahan Islam.
Abdullah bin Unis
Rasulullah juga pernah melakukan operasi intelijen dan misi rahasia ke pasukan musuh. Seorang shahabat Abdullah bin Unis dikirim Rasulullah menyusup masuk ke dalam pusat kekuatan musuh. Sasaran utama misi itu adalah Bani Lihyaan dari Kabilah Huzail yang dipimpin oleh panglima mereka, Khalid bin Sofyan Al-Hazaly.
Misi ini dilakukan karena umat Islam mendapatkan kabar bahwa Khalid bin Sofyan Al-Hazaly tengah berupaya mengadakan pemusatan kekuatan pasukan gabungan kaum kafir yang cukup besar di daerah Uranah untuk menyerang Islam. Karena itu, Rasulullah mengirim Abdullah bin Unis untuk melakukan misi pengintaian sekaligus penyelidikan untuk membenarkan kabar berita tersebut.
"….Rasulullah mengirim Abdullah bin Unis untuk melakukan misi pengintaian sekaligus penyelidikan untuk membenarkan kabar berita tersebut.….
Abdullah kemudian berangkat dan melakukan menyamaran. Tak terduga, di tengah jalan, Abdullah bertemu Khalid yang ditemani beberapa wanita dan pasukannya. Khalid kemudian menyapa Abdullah, “Hai laki-laki, siapa gerangan Engkau?”
Jawab Abdullah, “Saya adalah laki-laki Arab juga. Saya mendengar bahwa engkau telah memusatkan kekuatan pasukan untuk menyerang Muhammad. Apakah benar demikian?” tanya Abdullah. Dan tanpa curiga, Khalid membenarkan rencananya itu.
Abdullah meminta diperbolehkan bergabung dan meminta diizinkan menemani Khalid. Tanpa curiga, Khalid mengizinkannya. Suatu kali, Abdullah mendapatkan Khalid sendirian dan terpisah dari pasukan utamanya. Abdullah tak menyia-nyiakan kesempatan emas itu, secepat kilat, Abdullah kemudian menyergap Khalid dan membunuh pemimpin kaum kafir itu dengan pedangnya. Peristiwa itu membuat kaum kafir gempar. Pasukan musyrikin geger dan urung menyerang umat Islam karena diketahui pemimpinnya telah tiada. Abdullah kemudian pulang ke Madinah setelah melakukan misi rahasianya.
Abdullah bin Jahsy Asady
Bulan Jumadil Akhir 1424, seorang shahabat bernama Abdullah bin Jahsy Asady, beserta dua belas shahabat dari kalangan Muhajirin diperintahkan Rasulullah berangkat untuk menjalankan sebuah operasi intelijen rahasia. Ikut dalam rombongan itu Sa’ad bin Abi Waqqash dan ’Utbah bin Ghazwan. Rasulullah SAW memberinya sebuah surat yang boleh dibaca jika perjalanan mereka sudah mencapai dua hari.
Setelah dua hari dalam perjalanan, sang komandan, Abdullah bin Jahsy kemudian membuka isi surat tersebut. Isinya, tak lain adalah sebuah perintah untuk memata-matai musuh: ”Berangkatlah menuju Nikhlah, antara Mekkah dan Tha’if. Intailah keadaan orang orang Quraisy di sana dan laporkan kepada kami keadaan mereka.” Selepas membaca surat itu, Abdullah bin Jahsy dan para rombongan kemudian berujar, ”Kutaati perintah ini!”
Kemudian diceritakanlah isi surat Rasulullah tersebut kepada para shahabatnya yang lain seraya berkata, ”Rasulullah telah melarang aku memaksa seorang pun dari kalian. Siapa yang ingin mati sebagai pahlawan syahid, marilah berjalan terus bersama aku, dan siapa yang tidak menyukai hal tersebut hendaklah dia pulang…!”
Saat melalukan pembebasan negeri Mekkah dari suku Quraisy, Nabi Muhammad –ketika itu berencana– akan mengerahkan 10.000 pasukan tentara Muslim. Untuk mempertahankan ‘serangan mendadak’ ini, Rasulullah kemudian melepaskan petugas intelijennya menuju Mekkah yang ditugaskan mengacaukan informasi pada musuh agar mereka tidak mengerti bila pasukan Islam yang berencana melakukan serangan mendadak itu jumlahnya banyak.
"….Untuk kepentingan intelijen dan kerahasiaan militer, Nabi menyimpan rapat-rapat informasi jumlah pasukan ini bahkan kepada istri tercinta Aisyah atau pada shahabat kepercayaannya sendiri….
Untuk kepentingan intelijen dan kerahasiaan militer, Nabi Muhammad bahkan menyimpan rapat-rapat informasi jumlah pasukan ini bahkan kepada istri tercinta Aisyah atau pada shahabat kepercayaannya sendiri, Abu Bakar Ash-Shidiq.
Esoknya, dalam penyerangan mendadak itu kau kafir Quraisy benar-benar kelabakan dan kedodoran. Mereka tak menyangka di pagi hari buta itu, telah datang puluhan ribu orang dari pasukan Islam di kota Mekkah. Tanpa persiapan, mereka kemudian menyerah. Muhammad paham, orang Quraisy tak akan melakukan perlawanan. Sebab, di tangannya, Rasulullah telah menguasai informasi kekuatan musuh, situasi yang bakal terjadi, hingga informasi logistik, menyangkut keadaan jalan-jalan yang akan dilalui pasukan Islam dan kondisi mata air. Detil, rapi dan rahasia. Itulah strategi Muhammad dalam menjalankan perang dan intelijen.
Nu’aim bin Mas’ud Al-Ghathafany
Dalam misi intelijen Rasulullah juga pernah melakukan propaganda untuk memperlemah kekuatan musuhnya. Dalam kisah, pernah suatu ketika kekuatan musuh gabungan porak-poranda dan bercerai-berai akibat tidak adanya kekompakan di antara mereka akibat propaganda yang dilancarkan Nu’aim bin Mas’ud Al-Ghathafany, mantan musuh yang kemudian bergabung ke pasukan Islam. Nu’aim melakukan psycho war (perang urat syarat) dan propaganda yang membuat kekuatan musuh goyah dan bercerai-berai.
Rasulullah juga pernah melakukan tipuan yang kreatif untuk mengecoh lawan dalam peperangan. Suatu kali, ketika Rasulullah berencana akan berperang dengan kaum Quraisy. Di sebuah tempat, di Marru Dzahraan, tempat Rasulullah dan pasukannya bermarkas, beliau memerintahkan seluruh pasukannya menyalakan obor.
Nyala obor 10.000 orang pasukan Islam itu kemudian bercahaya ke seluruh penjuru kota hingga kaum Quraisy melihatnya dari kejauhan. Melihat cahaya api pasukan Islam, Abu Sofyan berkata, “Belum pernah saya melihat malam seperti terbakar ini dan belum pernah pula saya melihat ada pasukan seperti ini!” Cerita itu kemudian cepat tersebar dari mulut ke mulut hingga sampai ke para pemimpin kaum Quraisy dan pasukan kafir.
"….Dalam misi intelijen Rasulullah juga pernah melakukan propaganda untuk memperlemah kekuatan musuhnya….
Akibat taktik itu, Rasulullah berhasil mengecoh lawan dengan mengesankan pasukan muslimin luar biasa banyaknya hingga membuat nyali pasukan musuh menjadi ciut. Sebagian kaum kafir bahkan berlarian memeluk Islam agar aman, sebagian lainnya tetap melawan meski sudah tak lagi memiliki keberanian akibat sudah kalah secara psikologis. Dan Rasulullah akhirnya mampu menguasai Mekkah tanpa ada perlawanan yang berarti. [Desastian/voa-islam.com]
Rabu, 07 Desember 2011
Abu Bakar An-Nablusi: Teguh di Atas Sunnah Meski Dikuliti & Disalib Penguasa Syi'ah
Sejarah telah mencatat kisah seorang ulama Ahlussunnah yang berani dan tabah dalam menyuarakan kebenaran dan menjulang bendera tauhid di hadapan golongan yang kufur terhadap Allah dan Rasul-Nya.
Al-Imam Abu Bakar An-Nablusi hidup semasa pemerintahan kerajaan fathimiyah yang bermazhab Syi’ah, berikut ini adalah kisah beliau yang begitu berani mengatakan yang haq di hadapan pemerintah zhalim Syi’ah yang memerintah kala itu.
Adz-Dzhahabi menyebutkan di dalam Siyar A‘lamin Nubala’ mengenai An-Nablusi rahimahullah dengan mengatakan: “Beliau, seorang Imam panutan Asy-Syahid Abu Bakr Muhammad bin Ahmad bin Sahl Ar-Romli dan terkenal dengan sebutan Ibnu An-Nablusi.
Abû Dzar Al-Hafidz berkata, “Ia dipenjara dan disalib oleh Bani Ubaid ketika beliau berpegang teguh di atas As-Sunnah. Aku mendengar Ad-Daruquthni mengisahkan beliau sembari menangis dan mengatakan: ‘Ketika dikuliti, beliau mengatakan: Semua itu telah tertulis di dalam kitab (lauhul mahfudh)”
Adz-Dzahabi juga bercerita bahwa Abu Bakar An-Nablusi lari berkali-kali dari kejaran penguasa Ubaidiyah, ia berkata: “Abul Faroj ibnul Jauzi berkata, ‘Jauhar Al-Qoid memanggil Abu Bakar An-Nablusi untuk menghadap Abu Tamim, penguasa Mesir. Sementara Abu Bakar An-Nablusi tinggal di gubuk-gubuk. Abu Tamim berkata kepadanya: Kami mendengar bahwasanya engkau mengatakan, apabila seseorang itu mempunyai sepuluh anak panah maka harus dipanahkan kepada bangsa Romawi satu buah dan dipanahkan kepada kami sembilan buah.
Abu Bakar An-Nablusi menjawab: Aku tidak mengatakan seperti itu, akan tetapi Aku mengatakan, jika seseorang mempunyai sepuluh anak panah maka harus dipanahkan kepada kalian sembilan buah dan yang satu lagi dipanahkan kepada kalian juga karena sesungguhnya kalian telah merubah ajaran Islam, membunuh orang-orang sholih dan kalian mengaku mempunyai cahaya ilahi.
Maka Abu Tamim mempertontonkan beliau kepada masyarakat kemudian memukulinya, kemudian Abu Tamim memerintahkan seorang Yahudi untuk mengulitinya.
Ibnul Akfani berkata: Seorang hamba yang shalih dan zuhud, Abu Bakar An-Nablusi telah wafat. Dahulu ia berpendapat wajib memerangi Al Maghoribah (penguasa maghrib, banu Ubaid,-pent.). Ia melarikan diri dari Ar Romalah ke Damaskus. Maka penguasa di sana, Abu Mahmud Al Kattami menangkapnya dan mengurungnya dalam sangkar kayu, lalu mengirimnya ke Mesir. Tatkala telah sampai, mereka bertanya: Apakah Engkau orang yang mengatakan, seandainya Aku memiliki sepuluh anak panah, dan beliau menuturkan kisah seterusnya. Lalu ia dikuliti, kemudian ditimbun dengan jerami, kemudian disalib.
Ma'mar bin Ahmad bin Ziyad Ash-Shufi berkata: Ada seseorang yang tsiqqoh (terpercaya) yang memberitakan kepadaku bahwasanya Abu Bakar An-Nablusi dikuliti dari ubun-ubunnya sampai wajahnya. Dan dia tetap bersabar dan berzikir kepada Allah, hingga dikuliti sampai dadanya, kemudian orang yang mengulitinya merasa kasihan terhadapnya sehingga ia hunjamkan ulu hatinya dengan pisau, sehingga beliau pun meninggal dunia. Dan orang yang tsiqah (terpercaya) tersebut memberitakan kepadaku bahwasanya Abu Bakar adalah seorang Imam di bidang hadits dan fikih. Beliau puasa sepanjang masa, orang yang berwibawa di hadapan orang-orang awam maupun di hadapan orang-orang terkemuka.
Dan tatkala ia dikuliti, terdengar bacaan Al Qur'an dari tubuhnya. Kemudian Al Maghribi (penguasa maghrib, penguasa bani Ubaid, red.) menguasai Syam, kemudian ia menyebarluaskan pemahaman yang jelek, meniadakan shalat tarawih dan shalat dhuha, memerintahkan qunut pada shalat zuhur dan membunuh An-Nablusi pada tahun tiga. Sedangkan Abu Bakar An-Nablusi adalah seorang yang mulia, pemimpin Ar Romlah, kemudian melarikan diri, lalu ditangkap di Damaskus.
Konon, seorang pemuka yang menentangnya mengatakan kepada beliau tatkala beliau datang ke Mesir: Segala puji bagi Allah atas keselamatanmu. Abu Bakar An-Nablusi menjawab: Segala puji bagi Alloh atas keselamatan agamaku dan atas keselamatan duniamu. Saya (Adz Dzahabi) katakan: Ajaran Islam yang diputarbalikkan oleh orang-orang Ubaidiyyah tidak dapat digambarkan. Mereka menguasai Maroko, kemudian Mesir dan Syam, dan mereka mencela sahabat.
Ibnus Sa'sa' Al Mishri menuturkan, bahwasanya ia bermimpi bahwa Abu Bakar bin An-Nablusi setelah disalib dalam kondisi yang sangat baik. Ia bertanya kepada Abu Bakar An-Nablusi: Apa yang Allah lakukan terhadap dirimu? Abu Bakar An-Nablusi menjawab:
Rajaku menganugerahkan kepadaku kemuliaan yang abadi…
Dan menjajikan kepadaku kemenangan yang tidak lama lagi …
Dan Ia mendekatkan diriku kapada-Nya …
Dan Ia berfirman: Berbahagialah hidup di sisi-Ku …
(Dikutip Dari Kitab Qishashun Tarikhiyyatun lil Mathlubiin karya Asy-Syaikh Al Mujahid Abu Jandal Azdi) [ahmed widad/voa-islam.com]
Al-Imam Abu Bakar An-Nablusi hidup semasa pemerintahan kerajaan fathimiyah yang bermazhab Syi’ah, berikut ini adalah kisah beliau yang begitu berani mengatakan yang haq di hadapan pemerintah zhalim Syi’ah yang memerintah kala itu.
Adz-Dzhahabi menyebutkan di dalam Siyar A‘lamin Nubala’ mengenai An-Nablusi rahimahullah dengan mengatakan: “Beliau, seorang Imam panutan Asy-Syahid Abu Bakr Muhammad bin Ahmad bin Sahl Ar-Romli dan terkenal dengan sebutan Ibnu An-Nablusi.
Abû Dzar Al-Hafidz berkata, “Ia dipenjara dan disalib oleh Bani Ubaid ketika beliau berpegang teguh di atas As-Sunnah. Aku mendengar Ad-Daruquthni mengisahkan beliau sembari menangis dan mengatakan: ‘Ketika dikuliti, beliau mengatakan: Semua itu telah tertulis di dalam kitab (lauhul mahfudh)”
Adz-Dzahabi juga bercerita bahwa Abu Bakar An-Nablusi lari berkali-kali dari kejaran penguasa Ubaidiyah, ia berkata: “Abul Faroj ibnul Jauzi berkata, ‘Jauhar Al-Qoid memanggil Abu Bakar An-Nablusi untuk menghadap Abu Tamim, penguasa Mesir. Sementara Abu Bakar An-Nablusi tinggal di gubuk-gubuk. Abu Tamim berkata kepadanya: Kami mendengar bahwasanya engkau mengatakan, apabila seseorang itu mempunyai sepuluh anak panah maka harus dipanahkan kepada bangsa Romawi satu buah dan dipanahkan kepada kami sembilan buah.
Abu Bakar An-Nablusi menjawab: Aku tidak mengatakan seperti itu, akan tetapi Aku mengatakan, jika seseorang mempunyai sepuluh anak panah maka harus dipanahkan kepada kalian sembilan buah dan yang satu lagi dipanahkan kepada kalian juga karena sesungguhnya kalian telah merubah ajaran Islam, membunuh orang-orang sholih dan kalian mengaku mempunyai cahaya ilahi.
Maka Abu Tamim mempertontonkan beliau kepada masyarakat kemudian memukulinya, kemudian Abu Tamim memerintahkan seorang Yahudi untuk mengulitinya.
Ibnul Akfani berkata: Seorang hamba yang shalih dan zuhud, Abu Bakar An-Nablusi telah wafat. Dahulu ia berpendapat wajib memerangi Al Maghoribah (penguasa maghrib, banu Ubaid,-pent.). Ia melarikan diri dari Ar Romalah ke Damaskus. Maka penguasa di sana, Abu Mahmud Al Kattami menangkapnya dan mengurungnya dalam sangkar kayu, lalu mengirimnya ke Mesir. Tatkala telah sampai, mereka bertanya: Apakah Engkau orang yang mengatakan, seandainya Aku memiliki sepuluh anak panah, dan beliau menuturkan kisah seterusnya. Lalu ia dikuliti, kemudian ditimbun dengan jerami, kemudian disalib.
Ma'mar bin Ahmad bin Ziyad Ash-Shufi berkata: Ada seseorang yang tsiqqoh (terpercaya) yang memberitakan kepadaku bahwasanya Abu Bakar An-Nablusi dikuliti dari ubun-ubunnya sampai wajahnya. Dan dia tetap bersabar dan berzikir kepada Allah, hingga dikuliti sampai dadanya, kemudian orang yang mengulitinya merasa kasihan terhadapnya sehingga ia hunjamkan ulu hatinya dengan pisau, sehingga beliau pun meninggal dunia. Dan orang yang tsiqah (terpercaya) tersebut memberitakan kepadaku bahwasanya Abu Bakar adalah seorang Imam di bidang hadits dan fikih. Beliau puasa sepanjang masa, orang yang berwibawa di hadapan orang-orang awam maupun di hadapan orang-orang terkemuka.
Dan tatkala ia dikuliti, terdengar bacaan Al Qur'an dari tubuhnya. Kemudian Al Maghribi (penguasa maghrib, penguasa bani Ubaid, red.) menguasai Syam, kemudian ia menyebarluaskan pemahaman yang jelek, meniadakan shalat tarawih dan shalat dhuha, memerintahkan qunut pada shalat zuhur dan membunuh An-Nablusi pada tahun tiga. Sedangkan Abu Bakar An-Nablusi adalah seorang yang mulia, pemimpin Ar Romlah, kemudian melarikan diri, lalu ditangkap di Damaskus.
Konon, seorang pemuka yang menentangnya mengatakan kepada beliau tatkala beliau datang ke Mesir: Segala puji bagi Allah atas keselamatanmu. Abu Bakar An-Nablusi menjawab: Segala puji bagi Alloh atas keselamatan agamaku dan atas keselamatan duniamu. Saya (Adz Dzahabi) katakan: Ajaran Islam yang diputarbalikkan oleh orang-orang Ubaidiyyah tidak dapat digambarkan. Mereka menguasai Maroko, kemudian Mesir dan Syam, dan mereka mencela sahabat.
Ibnus Sa'sa' Al Mishri menuturkan, bahwasanya ia bermimpi bahwa Abu Bakar bin An-Nablusi setelah disalib dalam kondisi yang sangat baik. Ia bertanya kepada Abu Bakar An-Nablusi: Apa yang Allah lakukan terhadap dirimu? Abu Bakar An-Nablusi menjawab:
Rajaku menganugerahkan kepadaku kemuliaan yang abadi…
Dan menjajikan kepadaku kemenangan yang tidak lama lagi …
Dan Ia mendekatkan diriku kapada-Nya …
Dan Ia berfirman: Berbahagialah hidup di sisi-Ku …
(Dikutip Dari Kitab Qishashun Tarikhiyyatun lil Mathlubiin karya Asy-Syaikh Al Mujahid Abu Jandal Azdi) [ahmed widad/voa-islam.com]
Langganan:
Postingan (Atom)
